W20 DAN DAMPAK POSITIFNYA BAGI PEREMPUAN INDONESIA
KTT G20 berdiri pada tahun 1999, G20 lahir sebagai respons atas krisis ekonomi dunia pada tahun 1997-1998. Tujuannya adalah memastikan dunia keluar dari krisis dan menciptakan pertumbuhan ekonomi global yang kuat dan berkesinambungan. G20 terdiri dari 19 negara dengan perekonomian besar di dunia dan ditambah satu organisasi antarpemerintah dan supranasional yaitu Uni Eropa. Uni Eropa adalah organisasi antarpemerintah yang beranggotakan negara-negara Eropa. Terdapat 27 negara yang menjadi anggota Uni Eropa diantaranya Austria, Belanda, Belgia, Bulgaria, Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Hungaria, Irlandia, Italia, Jerman, Koasia, Latvia, Lituania, Luksemburg, Malta, Polandia, Portugal, Prancis, Rumania, Siprus, Slovenia, Slowaskia, Spanyol, Swedia dan Yunani.
Organisasi supranasional
adalah persatuan politik multinasional yang menyerahkan kuasa tiap negara
anggotanya kepada pemerintah yang berada di atasnya. Diperkasai oleh G7 atau
grup tujuh yang terdiri dari Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris
dan Amerika Serikat. Kelompok 20 negara ekonomi terkemuka menyumbang sekitar
dua pertiga dari populasi dunia dan 80 persen dari perdagangan dunia.
Pertemuan pertama KTT G20
yaitu pada tanggal 14-15 November 2008 di Washington D.C dengan Presiden George
W. Bush. Sampai dengan pertemuan KTT G20 di Bali dengan Presiden Joko Widodo. Disamping
itu, terdapat Side events KTT G20. Side events adalah sejumlah forum yang
diselenggarakan di luar dari jadwal resmi Kongres/forum Utama. Biasa disebut
sebagai peristiwa sisi atau acara sampingan dalam bahasa Indonesia.
Forum KTT W20, atau Women 20 (W20)
menjadi salah satu acara sampingan dalam rangkaian KTT G20 Presidensi
Indonesia. W20 memiliki tema “En Route to Gender Welfare” diartikan sebagai
komitmen untuk menjembatani kesenjangan disparitas gender. Forum KTT W20 juga
bertujuan untuk Recover Together, Recover Equally yang memiliki artian bangkit
bersama, bangkit sama rata. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga
Hartarto memberikan pandangan terhadap pemberdayaan ekonomi perempuan di
jantung forum adalah kunci untuk memberikan global exit strategy yang sukses. Hal
ini penting karena di seluruh anggota G20 kesenjangan gender tetap ada dan
menghambat pembangunan berkelanjutan.
Pemimpin G20 menyepakati untuk
mengurangi kesenjangan gender dalam partisipasi angkatan kerja sebesar 25% pada
tahun 2025 pada KTT 2014 di Brisbane. Forum G20 memprioritaskan sharing best
practice dalam mendukung perempuan untuk mengakses tools yang mereka butuhkan
sebagai pengusaha dan mengeksplorasi bagaimana merancang kerangka kerja yang
terbaik untuk mendukung perempuan berhasil dalam usaha.
Di Indonesia, sebanyak 61%
perempuan berkontribusi terhadap perekonomian dan sekitar 50% dari 60 Juta UMKM
yang ada di Indonesia dimiliki oleh perempuan. Hal ini menjadi nilai yang
sangat signifikan, karena UMKM Indonesia mampu menyerap 97% tenaga kerja sektor
usaha.
Pemberdayaan ekonomi perempuan
juga dialokasikan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Kartu Prakerja.
Presidensi Indonesia mengidentifikasi dua prioritas utama pemberdayaan
perempuan, yaitu bertujuan menciptakan nilai ekonomi baru dan memberdayakan
perempuan dalam ekonomi baru. Mendukung UMKM milik perempuan berpartisipasi
penuh dalam transformasi ekonomi berbasis digital yang inklusif dan
berinvestasi dalam keterampilan digital dan STEM skill perempuan dan anak
perempuan untuk berpartisipasi di semua sektor ekonomi.
Perempuan dapat membangun
generasi masa depan yang jauh lebih baik dimasa depan untuk meningkatkan
kualitas hidup dan berperan menjadi jembatan pembangunan berkelanjutan di
tengah gelombang tantangan dunia.

Komentar
Posting Komentar