Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

RINDU

Waktu menunjukkan pukul 22.41 Di atas tanah ibu kota Di seberang pemakaman umum Utan Jati Di dalam sebuah kotak yang besar Aku, Melani Nurfadilah Berteriak lantang kepadamu Berlutut isak di hadapanmu Bersesal hati padamu Mengeluh akan keputusanmu Sudah kucerna dnegan baik tugasku Pion di kotak E5 Aku dihadapkan langsung pada sang kuda Kuda ini bengis sekali Gagah mengiris hati Sembilu tajam langsung memaki Cobaan beratku kini menghampiri Untuk menguji tebal keyakinanku Apakah aku setia menunggu Atau cepat sekali berlalu Kini ku pasrahkan semua pada waktu Ku harap dimensi ke 4 itu melaju Membuatku meninggalkan masa sulit itu Aku hanya seonggok daging dengan tiupan roh didalamnya Aku ini hamba pada Tuannya Bergantung pada zat yang amat suci Semoga masalah secepatnya lari NIF2304172100

TMII

TMII Bibirku merekah menambah pesek hidungku Mataku tercuci di hari itu Kali ketiga aku ada di sana Menyaksikan replika Indonesia yang luar biasa Kereta gantung berwarna pink Garuda wisnu kencana yang gagah Rumput hijau yang menguning Danau dengan perahu bebek di atasnya Aku bahagia di setiap kesempatannya Sangat bahagia Selalu terulas senyum di bibirku Juga di mataku Sinarnya samar tak tercemar Diriku beseluncur di lorong yang hitam Cepat, sangat cepat sampai aku tenggelam Sungguh mendebarkan, seperti dilempar ke udara Kereta gantung pink di hari sabtu Snowbay yang menangis di hari sabtu Garuda wisnu kencana yang gagah di hari minggu Bersama teman dan keluarga Sungguh, sabtuku menyenangkan

SUNYI SEPI

SS Sunyi sudah pasti sepi Tapi sepi tidaklah sunyi Sial, aku memiliki keduanya Sepi yang sunyi Taman yang ramai oleh percakapan Jalanan kota yang bising Gemericik hujan yang memecah batu Serta ombak yang berlarian Ramai, bising, gemericik, dan deburan Sama saja bagiku Selalu sepi, untuk kemudian sunyi menghampiri Lengkaplah sudah semua Sepi yang sunyi Kau harus bertanggung jawab Sepi ini karena mu Sunyi ini karena ku Kau tetap bertanggung jawab untuk semua ini Hei kau ini nyata atau maya? Kita selalu berjumpa dikala lengang Kau selalu hadir di sepi nan sunyi Kau tidak pernah muncul di keramaian Kau ini sumber sepi dan sunyiku Hadir dalam mimpi Pergi saat terjaga Hilang tapi berbekas Hidup di pusat ingatan Ah kau, kenangan masa lalu yang indah

BURAM

BURAM Maret yang seperti Februari Maret yang dingin Maret yang lembap Maret yang menyesakkan Masih ku simpan mawar putihmu Mawar itu berubah warna Mawar itu layu Mawar itu busuk Tangisan awan itu tidak mampu menyelamatkannya Ku tanam mawar putih di tanahmu Sebagai permohonan maaf dariku Agar aku sering mengunjungimu Bahagiakah engkau? Sudahkan kau bertemu dengan-Nya? Aku datang Ronald Aku datang membawa 9 tangkai mawar putih Kini aku tahu semuanya Aku melihat semuanya Terlambat sudah semuanya Aku menyesal selamanya Ronald terima kasih untuk yang dulu Aku tersenyum untuk yang berlalu Ronald semoga engkau nyaman dalam pelukan bumi ini Semoga kita bertemu di keabadian nanti

PROKLAMASI

PROKLAMASI ALA KAMI Terik di rabu waktu itu menambah legam kulit mukaku Debu di jalanan pondok randu ini juga menambah kelegaman itu Aku hendak mengupas masa lalu Berjalan tersesat menelusuri gang-gang kecil Ku temukan akhirnya tempat itu Rumah kawanku yang bersedia direpotkan Hari itu semua berubah menjadi hitam dan putih Tidak lupa juga peci hitam di atas kepala Bung Karno dan Bung Hatta bersamaku Ikut datang ke rumah itu Kami semua mengulas masa lalu itu Masa terbebasnya Indonesia dari Nippon Asia Djojo si golongan tua tersemat padaku Djojo hanya mengucapkan sepatah kata Djojo yang tidak setuju pada golongan muda Anugerah untukku yang tidak ingin lama berpura-pura Kami semua memerankan tulang belulang itu Semampu yang kami bisa Semampu yang dapat kami bayangkan Soekarno Hatta dan proklamasi 71 tahun yang lalu

KATA KALBU

MANJIJIKAN Hitam legam nan membungkam Pendek jelek nan congkak Tak berleher nan membungkuk Hai pak tua Noda apa yang telah ku beri? Engkau mempertanyakan keyakinanku? Tenanglah pak tua Aku akan menjawabnya Dengan berani dan lantang Garis keras apa yang kau maksud wahai pak tua? Atas dasar apa engkau bertanya wahai pak tua? Benarkah semua ini karena ketidakhadiranku? Aku juga mempunyai hak yang kau lupakan Keyakinanku dipertanyakan untuk pertama kalinya Sungguh tajam harimaumu itu pak tua Kau memang berhak untuk bertanya Wahai pak tua Pertanyaanmu menyinggung hati ini Wahai pak tua Pertanyaanmu menuduh jasad ini Aku menyesal mengikutimu Aku terlena oleh hubungan itu Aku ingin lepas dari bayanganmu Berpuluh tusuk jarum kudapatkan karena mengikuti dirimu Ku abaikan perintah di kitabku Tidak seharusnya aku berlatih pada orang sepertimu Aku telah melupakan hal penting pak tua Kau bukanlah bagian dari agamaku Kau bukanlah...